Fikih Kuliner – Abdul Wahab Abdussalam Thawilah – Penerbit Pustaka Al Kautsar

Fikih Kuliner - Abdul Wahab Abdussalam Thawilah - Penerbit Pustaka Al KautsarNama Buku : Fikih Kuliner

Ukuran/Hal : 15 x 23 cm / 640  halaman

Berat: 1000 gram

Penulis: Abdul Wahab Abdussalam Thawilah

Penerbit: Penerbit Pustaka Al Kautsar

Harga : Rp  113.000 ,- –> Rp  102.000

Anda Hemat: Rp 11.000,-

Pemesanan: 0858 6766 8777 (SMS/Whatsapp)

Line: Line Wisatabuku @smt6500o <- Cukup Klik Untuk Pengguna Line

Sinopsis Buku Fikih Kuliner – Abdul Wahab Abdussalam Thawilah – Penerbit Pustaka Al Kautsar

Urusan perdapuran (kuliner) adalah salah satu urusan terpenting bagi manusia karena terkait dengan kebutuhan primernya: pangan. Di sisi lain, kuliner sudah menjadi gaya hidup, kegemaran (hobi), bahkan karir bagi sebagian orang zaman sekarang.

Karir, hobi, gaya hidup, dan kebutuhan yang satu ini tentunya harus sesuai dengan tuntunan syariat, demi kebaikan orang yang bersangkutan. Pasalnya, syariat hanya mengharamkan hal yang buruk bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Nah, dengan membaca buku ini, kita bisa mengetahui:

| Ragam makanan dan minuman yang halal dikonsumsi.
| Sumber makanan hewani dan nabati yang halal dan haram dimakan.
| Teknik menyembelih hewan yang baik dan benar, selain agar halal juga agar bisa dagingnya lebih enak.
| Tata cara berburu yang dapat menghalalkan buruan untuk dikonsumsi.
| Table manner ala Islam.

Daftar Isi Buku Fikih Kuliner – Abdul Wahab Abdussalam Thawilah – Penerbit Pustaka Al Kautsar

Isi Buku

Dustur Ilahi   v
Pengantar Penerbit   vii

MUKADIMAH   1

BUKU 1
RAGAM MAKANAN & HUKUMNYA
BAB 1: HUKUM MAKANAN
Bagian Pertama: Makanan yang Dihalalkan dan yang Diharamkan   8
A. Hukum Dasar Makanan adalah Mubah   8
Definisi Makanan   8
Hukum Mengkonsumsi Makanan   8
Substansi-substansi yang Dilarang dan Diperbolehkan dalam Al-Qur’an   9
Hukum Dasar Makanan adalah Halal   11
B. Dasar Diharamkannya Makanan   17
Kajian Dalil   25
Bentuk-bentuk Pengharaman dan Landasan Hukumnya   29
Bagian Kedua: Sebab-sebab & Alasan Pengharaman   31
A. Membahayakan Tubuh   32
B. Membahayakan Akal   32
Catatan Penting   34
C. Bersifat Buas   34
D. Bersifat Najis   35
E. Bersifat Menjijikkan   36
Siapa yang Berhak Menentukan Mana yang Menjijikkan dan Hina?   37
Kajian Dalil   39
F. Tidak Diizinkan Syariat   42
1. Yang disembelih untuk selain Allah   42
2. Yang diharamkan karena menyangkut hak Allah   44
3. Yang diharamkan karena diperbolehkan secara haram   44
4. Yang masih diragukan keharamannya   44
G. Adanya Faktor-faktor Penghalang   45
Catatan Penting   46

BAB II: BINATANG DARAT   47
Bagian Pertama: Binatang Jinak   48
A. Ragam Makanan dan Jenis Binatang   48
Makanan Hewani   48
B. Binatang Jinak yang Dihalalkan   49
1. Binatang Ternak   49
Hukumnya   49
2. Kuda   50
Hukumnya   50
Kajian Dalil   55
Hukum Semua Kuda itu Sama   58
C. Binatang Jinak yang Diharamkan   58
1. Keledai Jinak   58
Definisi dan Hukumnya   58
Kajian Dalil   63
2. Hasil persilangan antara Binatang yang Boleh Dimakan dan yang Tidak Boleh Dimakan   67
Definisi   67
Hukumnya   67
Catatan Penting   67
Kajian Dalil   69
3. Anjing dan Kucing   70
Bagian Kedua: Binatang Liar   71
A. Binatang Liar Lagi Buas yang Diharamkan   71
Definisi   71
Hukumnya   71
Kajian Dalil   74
Beberapa Binatang Bertaring   76
B. Binatang Bertaring yang Diperselisihkan Jumhur Ulama   78
1. Hyne   79
Hukumnya   80
Kajian Dalil   82
2. Rubah   84
Definisi   84
Hukumnya   84
3. Musang   86
Definisi   86
Hukumnya   86
C. Binatang Liar yang Tidak Buas   87
Definisi   87
1. Kera   87
Definisi   87
Hukumnya   88
2. Gajah   89
Definisi   90
Hukumnya  90
Kajian Dalil   91
3. Jerapah   91
Definisi   91
Hukumnya  92
4. Kelinci   92
Definisi   92
Hukumnya   92
Kajian Dalil   95
Bagian Ketiga: Binatang Kecil   96
A. Definisi Binatang Kecil dan Silang Pendapat ihwal Hukum Mengonsumsinya   96
Definisi   96
Ragamnya   96
Hukumnya   96
Kajian Dalil   98
B. Binatang Kecil yang Dinilai Haram oleh Mayoritas Ulama   99
1. Ular   99
Hukumnya   99
2. Tikus   101
Hukumnya   101
3. Cicak   102
Definisi   102
Hukumnya   102
4. Kadal   103
Definisi   103
Hukumnya   103
5. Kalajengking   10
6. Laba-laba   103
7. Kumbang   103
8. Semut   104
9. Serangga Terbang   104
10. Ulat   105
C. Binatang Kecil yang Diperselisihkan Mayoritas Ulama   106
1. Jerboa   106
Definisi   106
Hukumnya   106
2. Tupai   107
Definisi   107
Hukumnya   107
3. Hyrax   107
Definisi   107
Hukumnya   108
4. Landak   109
Hukumnya   109
Kajian Dalil   110
5. Kura-kura   111
Hukumnya   111
6. Binatang Kecil Lain yang Diperselisihkan Mayoritas Ulama   112
Kesimpulan Mayoritas Ulama   112
D. Binatang Kecil yang Boleh Dimakan   113
1. Biawak   113
Definisi   113
Hukumnya   113
Kajian Dalil   119
2. Belalang   122
Hukumnya   122
Apakah Supaya Halal Belalang Harus Disembelih?   123
Kajian Dalil   125
Catatan Penting   125
Bagian Keempat: Burung   127
A. Definisi dan Perbedaan Pendapat tentang Hukum Dasar Burung   127
Definisi   127
Jenis-jenis Burung   127
Hukumnya   127
B. Burung yang Diharamkan Menurut Mayoritas Ulama   127
1. Burung Pemburu   127
Definisi   127
Hukumnya   128
2. Burung Pemakan Bangkai   130
Definisi   130
Hukumnya   130
3. Burung Gagak yang Diharamkan   132
Definisi   132
Kesimpulan dan Kajian Dalil   135
C. Burung yang Diperselisihkan Mayoritas Ulama   136
1. Burung Shrike   136
Definisi   136
Hukumnya   137
2. Burung Hud-hud   138
Definisi   138
Hukumnya   138
3. Kelelawar   138
Definisi   138
Hukumnya   138
4. Burung Merak   139
Definisi   139
Hukumnya   139
5. Burung Hantu   140
Definisi   140
Hukumnya   140
6. Burung Betet   140
D. Burung yang Disepakati Mayoritas Ulama Boleh Dimakan   140
1. Ayam   140
2. Burung Onta   140
3. Burung Houbara   141
4. Burung-burung Air   142
5. Merpati   142
6. Burung Pipit   143
Burung yang Diperdebatkan Ulama   144
Kesimpulan tentang Burung   145

BAB III: BINATANG AIR    147
Pendahuluan   148
Definisi dan Macam Binatang Air   148
Hukumnya   148

Bagian Pertama: Yang Hanya Hidup di Air dan Berbentuk Seperti Ikan   149
Kesepakatan Umum Ulama tentang Hukum Mubahnya   149
Ikan yang Mengapung   151
Kajian Dalil   154
Mayoritas Ulama Menjawab Sebagai Berikut:   155
Bagian Kedua: Yang Tidak Berbentuk Ikan   157
Silang Pendapat Para Ahli Fikih Ihwal Hukumnya   157
Kajian Dalil   161
Bagian Ketiga: Yang Hidup di Air dan Darat   163
Definisi dan Macam-macamnya   163
Hukumnya   163
Binatang Amphibi yang Hukumnya Diperselisihkan   164
1. Kodok   164
2. Buaya   165
3. Penyu   166
4. Kepiting   166
Kesimpulan tentang Binatang Amphibi   166
Apakah Binatang Air Selain Ikan Perlu Disembelih?   167
Catatan Penting   168

BAB IV: YANG DIHARAMKAN KARENA NAJIS   171
Bagian Pertama: Najis Ain dan Najis yang Timbul   172
A. Najis Ain   172
1. Babi   172
2. Anjing   175
3. Bangkai dan Segala yang Tercakup dalam Pengertiannya   177
4. Yang Terlahir dari Perkawinan antara Binatang yang Najis dan yang Suci   178
B. Najis yang Timbul   179
Definisi Binatang Pemakan Kotoran   179
Apa Sajakah Binatang Pemakan Kotoran?   179
Kekerapan dan Kadar yang Cukup untuk Menyambut Binatang Pemakan Kotoran   179
Mengkritisi Pendapat Ahli Fikih   180
Hukum Memakan Binatang Pemakan Kotoran   181
Kajian Dalil   184
Hukum Mengendarai Binatang Pemakan Kotoran   185
Kapan Binatang Pemakan Kotoran Dinyatakan Steril?   185
Kajian Dalil   188
Catatan Penting   189
C. Bagian dari Sembelihan   189
Darah yang Mengalir   189
Darah yang Tersisa di Urat Setelah Disembelih   190
Kajian Dalil   191
Catatan Penting   192
Darah Ikan yang Mengalir   192
Hati dan Limpa   193
Sembelihan Orang Yahudi   193
Kajian Dalil   195
Bagian Kedua: Makanan yang Terkena Najis   196
A. Makanan yang Terpisah dari Binatang   196
Telur di Tubuh Binatang yang Mati   196
Telur Binatang yang Tidak Boleh Dimakan   197
Telur yang Direbus Dengan Air Najis   197
Susu   197
Susu di Tetek Binatang yang Mati   198
Keju dan Mentega   199
Kajian Dalil   202
Kesimpulan   203
B. Makanan Non Hewani   204
Jenis-jenis Makanan Non Hewani   204
Tanaman yang Disiram Air Najis   205

BUKU 2
PENYEMBELIHAN & PERBURUAN

BAB 1: PENYEMBELIHAN NORMAL   209
Sekilas tentang Definisi Penyembelihan   210
Macam-macamnya   210
Definisi Penyembelihan   211
Macam Hewan Berdasarkan Pengaruh Penyembelihan   211
Hikmah Penyembelihan   212
Macam-macam Penyembelihan   212
Rukun Penyembelihan   213
Bagian Pertama: Syarat dan Perangkat Penyembelihan   214
A. Syarat Pertama: Muslim atau Ahli Kitab   214
Mengapa Ahli Kitab Diperlakukan Khusus?   216
Siapakah yang Dimaksud Ahli Kitab?   216
Kajian Dalil   219
Murtad dari Islam   220
Yang Terlahir dari Perkawinan Ahli Kitab dengan Selainnya   220
Kajian Dalil   222
B. Syarat Kedua: Berakal dan Sadar   222
Sembelihan Anak Kecil, Orang Gila, dan Orang Mabuk   222
Kajian Dalil   224
Sembelihan Wanita   224
Sembelihan Orang Buta   225
Kesimpulan   225
C. Hal-hal yang Terkait dengan Penyembelihan   225
Syarat Kepemilikan atau Izin Pemilik   225
Ketidakjelasan Siapa yang Menyembelih   228
Catatan Para Ulama Madzhab Maliki tentang Sembelihan Ahli Kitab   229
D. Alat Penyembelihan   230
Karakteristik dan Syaratnya   230
Kesimpulan   232
Gigi dan Kuku   232
Kajian Dalil   234
Menyembelih dengan Tulang selain Gigi   235
Kajian Dalil   237
Bagian Kedua: Letak dan Cara Penyembelihan   239
A. Letak Penyembelihan Normal   239
Penyembelihan Paling Sempurna   240
Batasan Minimal yang Harus Dipotong   240
Kajian Dalil   243
B. Tata Cara Penyembelihan Normal   245
Terhadap Apa Sajakah Adz-Dzabh Dilakukan?   246
Terhadap Apa Sajakah An-Nahr Dilakukan?   246
Apa Sajakah yang Boleh Diperlakukan Adz-Dzabh dan An-Nahr?   247
Pelanggaran Sunnah dalam Penyembelihan Onta dan Kambing   248
Kajian Dalil   251
Apakah Mayoritas Ulama Menilai Makruh Pelanggaran Sunnah ihwal Adz-Dzabh dan An-Nahr?   251
C. Beberapa Persoalan Tata Cara Penyembelihan   252
Apakah Dipersyaratkan Memotong Jakun agar Ikut Sisi Kepala?   252
Kajian Dalil   253
Catatan Penting   253
Apakah yang Wajib Dipotong Harus Dipotong Sepenuhnya?   254
Apakah Pemotongan Harus Dilakukan Sekaligus?   255
Kajian Dalil   256
Penyembelihan sampai Memutus Tulang Belakang atau Memenggal   258
Kajian Dalil   260
Penyembelihan dari Tengkuk   261
Kajian Dalil   265
D. Yang Disunnahkan dan Yang Dimakruhkan dalam Penyembelihan   265
Yang Disunnahkan sebelum Menyembelih Hewan   266
Apakah Makruh Jika Tidak Dihadapkan ke Arah Kiblat?   167
Yang Disunnahkan dalam Proses Penyembelihan   268
Yang Dimakruhkan dalam Proses Penyembelihan   268
Hukum Anggota Badan Sembelihan yang Terputus Sebelum Mati   269

Bagian Ketiga: Niat dan Penyebutan Saat Menyembelih   270
A. Hukum Menyebut Nama Allah dan Waktunya   270
Hukum Menyebut Nama Allah   271
Kajian Dalil   282
Kesimpulan tentang Hukum Menyebut Nama Allah   288
Sembelihan Orang Bisu   289
Apakah Isyaratnya Harus Dimengerti?   290
Menyebut Nama Allah bagi Semua Sembelihan   290
Waktu Menyebut Nama Allah   291
Beberapa Ilustrasi   291
Jeda yang Singkat   292
Apakah Penyebutan Nama Allah itu Hanya Ditujukan untuk Penyembelih Saja?   293
Catatan Penting   293

B. Redaksi dan Niat Penyebutan Nama Allah   293
Redaksi Penyebutan Nama Allah   293
Mengucapkan Basmalah dalam Bahasa Non Arab   295
Disunnahkan Diiringi Takbir   295
Apakah Juga Disunnahkan Shalawat?   295
Kajian Dalil   296
Memurnikan Penyebutan Nama Allah Lahir dan Batin   296
Menyembelih Hewan karena Kedatangan Orang Istimewa atau Tamu   298
C. Makanan Ahli Kitab dan Penyebutan Mereka   300
Sekilas tentang Makanan Kaum Kafir   300
Catatan Penting   301
Penyebutan Nama Allah oleh Ahli Kitab   301
Jika Kita Tahu Mereka Menyebut Selain Allah   302
Kajian Dalil   305
Sembelihan untuk Hari Raya Mereka dan Gereja   306
Kajian Dalil   309
Binatang yang Dikonsumsi Ahli Kitab Tanpa Disembelih   311
Kajian Dalil   312
Daging Impor   314
Catatan Penting   315

Bagian Keempat: Menyempatkan Penyembelihan Hewan Sebelum Sekarat   317
A. Menyempatkan Penyakit Hewan yang Akan Mati   317
Kondisi yang Sah untuk Menyempatkan Penyembelihan   319
Binatang yang Sakit   323
Kajian Dalil   323
B. Uraian Para Ahli Fikih ihwal Tanda Kehidupan dan Kondisi Sah untuk Menyempatkan Penyembelihan   326
Madzhab Hanafi   326
Madzhab Maliki   330
Madzhab Syafi’i   333
Madzhab Hambali   339
C. Penyembelihan Janin   341
Definisi   341
Hukumnya   341
Apakah Janin Dipersyaratkan Berbentuk Sempurna atau Berambut?   345
Anjuran Menyembelih Janin yang Keluar dalam Keadaan Mati   346
Kajian Dalil   347
Teks-teks Fikih   349

BAB II: PENYEMBELIHAN DARURAT   353
Bagian Pertama: Perburuan dan Rukun Perburuan   354
A. Hukum Berburu   354
Penyembelihan Darurat   354
Definisi Perburuan   355
Hukum Berburu   355
Hikmah Legalitas Berburu   356
Catatan Penting   358
B. Pemburu dan Syarat-syaratnya   360
Orang yang Berhak Berburu   360
Kajian Dalil   361
Perburuan di Tana Hukumnya Suci dan Perburuan oleh Orang yang Berihram   361
Apakah Larangan ini Mencakup Buruan yang Tidak Boleh Dikonsumsi?   363
Hukum Binatang yang Diburu di Tanah Suci atau Diburu Orang yang Berihram   365
Buruan Orang yang Tidak Berihram bagi Orang yang Berihram   366
Kajian Dalil   369

Bagian Kedua: Berburu dengan Perangkap dan Pelontaran   371
A. Berburu dengan Perangkap   371
Alat Berburu   371
Berburu dengan Perangkap   371
Kajian Dalil   374
B. Beberapa dengan Pelontaran   374
Alat Lontar   374
Berburu dengan Melontarkan Benda Tajam   374
Berburu dengan Melontarkan Benda Tumpul   375
Kajian Dalil   379
Berburu dengan Peluru   380

Bagian Ketiga: Berburu dengan Hewan Pemburu   383
A. Hewan Pemburu yang Boleh Digunakan   383
Definisi Hewan Pemburu   383
Hukum Berburu dengan Hewan Pemburu   383
Berburu dengan Anjing   383
Anjing Hitam Legam   386
Apakah Bagian Buruan yang Terkena Mulut Anjing Menjadi Najis?   388
Kajian Dalil   389
Memelihara Anjing untuk Suatu Keperluan Mendesak   390
Berburu dengan Hewan Pemburu selain Anjing   391
Kajian Dalil   394
B. Melatih Hewan Pemburu   396
Pengertian Melatih   397
Memerintah Hewan Pemburu   397
Apakah Syarat ini Berlaku untuk Seluruh Hewan Pemburu?   397
Menangkap Buruan Tanpa Memangsangnya   398
Kajian Dalil   405
Anjing Pemburu Menolak Menyerahkan Buruan   408
Anjing Menjilati Darah Buruan   409
Anjing Pemburu Memakan Jeroan Buruan   409
Apakah Burung Pemburu Disyaratkan Tidak Memakan Buruannya?   409
Kajian Dalil   412
C. Target Pelatihan dan Pemastian Keterlatihan   413
Perbedaan Pendapat Ulama Ihwal Syarat Pengulangan   413
Kajian Dalil   416
Ringkasan Pendapat tentang Pelatihan   416
Catatan Penting   417
D. Keterlatihan yang Tidak Sah   417
Apakah Keterlatihannya Tidak Sah?   419
Ringkasan Pendapat tentang Tidak Sahnya Keterlatihan   421
Catatan Penting   421
Apakah Keharamannya Berlaku Surut terhadap Buruan yang Diperoleh sebelumnya?   422
Rincian Pendapat Ulama Madzhab Hanafi   423
Perburuan Musim dengan Anjing Terlatih Milik Orang Majusi   424
Kajian Dalil   426

Bagian Keempat: Alat Berburu dan Syarat Buruan   427
A. Tujuan Berburu dan Niat Menyembelih   427
Pengantar tentang Buruan dan Syarat-syaratnya   427
Niat Berburu dengan Memanah atau Melepas Hewan Pemburu   428
Apakah Berguna Menggesa Anjing setelah Lepas dengan Sendirinya?  430
Hewan Pemburu tidak Menunda Setelah Dilepaskan   431
Pemburu tidak Menunda untuk Mengikuti Setelah Memanah atau Melepaskan Buruan   432
B. Menentukan Target Buruan, dari Segi Jenis dan Posisinya   433
Melepas Hewan Pemburu ke Suatu Tempat   433
Mengenai Sasaran yang Tidak Ditentukan atau Bukan Sasaran Pelepasan   437
Memanah atau Melepas Hewan Pemburu ke Suatu Lubang   439
Kajian Dalil   440
C. Menyebut Nama Allah Sambil Melepas Hewan Pemburu atau Memanah   441
Hukum Menyebut Nama Allah (Tasmiyah)   441
Kajian Dalil   443
Waktu Tasmiyah (Menyebut Nama Allah)   444
Apakah Sah Tasmiyah setelah Melepas Hewan Pemburu?   444

Bagian Kelima: Membunuh Buruan yang Diperbolehkan dan Syaratnya   446
A. Sifat Membunuh Binatang yang Diperbolehkan   446
Apakah Disyariatkan Harus Melukai dan Mengeluarkan Darah?   446
Kajian Dalil   448
Catatan Penting   449
B. Ragu terhadap Penyebab Kematian Buruan   454
Jika Pemburu Melukai Buruan yang Tidak Mungkin Selamat   454
Luka yang Tidak Lekas Mematikan dan Keraguan yang Baru Muncul   456
C. Menemukan Buruan sebelum Mati   459
Buruan yang Memungkinkan untuk Disembelih dan Beberapa Kondisinya   461
D. Potongan Bagian Tubuh Buruan   465
Bagian Tubuh Buruan yang Terpotong setelah Terkena Benda Tajam   466
Catatan Penting   470
Kajian Dalil   471
E. Buruan Bersembunyi Setelah Terluka   473
Buruan Ditemukan Telah Busuk   483
F. Sengketa atas Kepemilikan Buruan   485
Ilustrasi Sengketa atas Kepemilikan Buruan   486
1. Buruan yang kabur dari jaring dan sejenisnya   486
2. Buruan yang digiring oleh hewan pemburu   488
3. Melukai buruan   488
4. Berburu di tempat orang lain atau dengan senjata milik orang lain   489

Bagian Keenam: Binatang yang Dianalogikan dengan Buruan   491
1. Hewan Jinak yang Menjadi Buas dan Sulit Disembelih   491
Kajian Dalil   497
2. Kategori Liar dan Melukai yang Menghalalkan   498
Kategori Melukai yang Dihalalkan   498
Onta Mengamuk   499
Ayam Tersangkut Pohon   499
Kambing Lepas   500

BUKU 3
ETIKA MAKAN DAN MINUM

Bagian Pertama: Hukum Mengonsumsi Makanan dan Minuman   502
A. Mengkonsumsi yang Ada dengan Senang Hati tanpa Berlebihan   502
Sederhana dalam Makan dan Minum   502
Berbagai Tingkatan dan Hukum Makan   503
Zuhudnya Rasulullah SAW dan para Sahabat   504
Makan Apa yang Ada   506
Tidak Mencela Makanan   506
Tidak Berlebihan dalam Menghidangkan Makanan   507
Orang Mukmin Makan dalam Satu Usus   508
Makanan yang Sedikit Cukup untuk Orang Banyak   508
Nasihat dan Peringatan   509
B. Anjuran Makan secara Bersama-sama   510
Makan Bersama   510
Berbalik Hati kepada Pembantu dan Memperhatikan Tetangga   511
Menghindari Makanan yang Menimbulkan Bau Tidak Sedap   512
Menyimpan Bahan Makanan untuk Keluarga   514
Hukum Makan dengan Perabot Makan Milik Orang Kafir   514

Bagian Kedua: Etika Makan dan Minum   517
A. Hal yang Dianjurkan dan Dimakruhkan sebelum Makan   517
Mencuci Telapak Tangan sebelum Makan   517
Catatan Penting   517
Tidak Masalah Makan di Meja Makan   518
Cara Duduk Saat Makan   519
Makruhkah Makan Sambil Duduk Bersandar?   520
Cara Duduk Bersandar   520
Hukumnya   521
Makan Sambil Berbaring Miring   522
Makan Sambil Berdiri   522
B. Cara Mengonsumsi Makanan   523
Menyebut Nama Allah sebelum Makan   523
Hukum Menyebut Nama Allah   526
Apakah Keterlibatan Setan Sirna oleh Penyebutan Nama Allah?   526
Catatan Penting   527
Makan dengan Tangan Kanan   527
Hukum Makan dengan Tangan Kiri   528
Catatan Penting   530
Makan dengan Tiga Jari   530
Mengambil Makanan yang Terdekat   531
Hukum Makan dari Tengah Pinggang   532
Tinjauan Dalil   534
Mengerikiti Daging   535
Makan Daging dengan Cara Diiris-iris   535
Menjaga Makanan dan Memungut yangTerjatuh   536
Mengoreti Pinggan dan Menjilati Jemari   538
Catatan Penting   540
Memuji Allah dan Berdoa Sesuai Makan dan Minum   541
Mencuci Tangan Setelah Makan   545
Catatan Penting   546
C. Etika Minum   547
Hukum Minum sambil Berdiri   547
Tinjauan Dalil   548
Larangan Minum dengan Cara Menenggak Langsung dari Mulut Teko dan Gelas yang Rekah   551
Makruh Membuang Nafas ke dalam Wadah Air   552
Mengedarkan Air Minum dan Sebagainya Mulai dari Kanan   554
Kapankah Orang Tua Didahulukan?   556
Catatan Penting   557

Bagian Ketiga: Menjamu Tamu dan Makan Hasil Kebun   559
A. Menjamur Tamu   559
Definisi Menjamu Tamu   559
Hukumnya   559
Perbedaan Ulama tentang Hukum Menjamu Tamu   559
Tinjauan Dalil   564
Siapa yang Wajib Menjamu Tamu?   564
Masa dan Cara Menjamu Tamu   565
Bolehkah Tamu Mengambil Jamuan Secara Paksa?   566
B. Makan Hasil Ladang atau Kebun Orang Lain   566
Apakah Larangan Mayoritas Ulama Mencakup Buah yang Rontok?   570
Apakah Madzhab Hambali Membolehkan Makan Hasil Ladang Orang Lain?   572
Catatan Penting   573
Tinjauan Dalil   573
Memerah dan Meminum Susu Ternak Orang Lain   574

Bagian Keempat: Resepsi dan Etika Resepsi   577
A. Mengadakan Resepsi dan Hukumnya   577
Definisi Resepsi   577
Anjuran Melaksanakan Resepsi   577
Menghadiri Undangan   578
Wajibkah Makan ketika Hadir?   579
Orang Puasa yang Diundang   580
Catatan Penting    581
Larangan Mengambil Beberapa Makanan Sekaligus   582
Mengajak Orang yang Tidak Diundang ke Jamuan Makan   582
Orang yang Menghadiri Jamuan Makan tanpa Diundang   583
Bolehnya Makan saat Jamuan   586
Makan di Rumah Sanak Kerabat atau Teman   586
Catatan Penting    587
B. Etika Sosial dalam Jamuan Makan dan Resepsi   588
Etika Tuan Rumah   588
Etika Bertamu   590
C. Resepsi Pernikahan   593
Hukum Resepsi Pernikahan   593
Siapa yang Melangsungkan Resepsi Pernikahan?   595
Apa Standar Umum Resepsi Pernikahan?   596
Waktu Resepsi yang Dianjurkan   597
Hukum Menghadirinya   598
Siapa yang Wajib Menghadiri Undangan Resepsi?   600
Undangan setelah Hari Pertama Resepsi   600
Makruhkah Menyelenggarakan dan Menghadiri Resepsi pada Hari Ketiga?   600
Tinjauan Dalil   601
Menyikapi Beberapa Pengundang pada Waktu Bersamaan   602
Catatan Penting   603
Wajibkah Menghadiri Undangan Terbuka?   603
Resepsi yang Berisi Hiburan   603
Kapankah Undangan Harus Dihadiri?   605
Saweran Pengantin   606
Catatan Penting   608

Bagian Kelima: Kondisi Terpaksa   609
A. Kondisi Terpaksa Mengonsumsi Barang Haram   609
Definisi Terpaksa   609
Ijma’ tentang Mengonsumsi Barang Haram saat Terpaksa   609
Batasan Keterpaksaan   612
Catatan Penting   613
Kadar Barang Haram yang Boleh Dikonsumsi   614
Bolehkah Berbekal Bangkai?   617
Tinjauan Dalil   618
Wajibkah Orang yang Terpaksa Mengonsumsi Makanan  Haram?   618
B. Memilih antara Bangkai atau Makanan Orang Lain, dan Orang Berihram yang Terpaksa Berburu   619
Saat Tidak Ada Pemiliknya   620
Saat Ada Pemiliknya yang Tidak dalam Kondisi Darurat Pangan   622
Wajibkah Memberikan Makanan secara Gratis Jika Orang yang Terpaksa Tidak Punya Uang?   622
Ketika Pemilik Menuntut Harga Lebih Tinggi daripada Harga Standar   623
Pemilik Enggan Memberikan ataupun Menjual Makanan   624
Apakah Orang yang Terpaksa Wajib Melawan dan Mengambil Paksa?   625
Kadar Makanan yang Boleh Diambil   626
Jika Pemilik Membutuhkan Cadangan Makanan   626
Catatan Penting   626
Apakah Orang yang Mampu Mengemis Boleh Memakan Makanan Haram?   627
Orang yang Berihram Memilih antara Buruan dan Bangkai   627
Tinjauan Dalil   629
Catatan Penting   629
Orang yang Terpaksa Memakan Mayat Manusia   630
Apakah Orang yang Terpaksa Boleh Memotong Anggota Tubuh Sendiri untuk Dimakan?   630
C. Darurat Pengobatan   631
Disyariatkannya Berobat   631
Hukum Berobat dengan Barang Haram   632
Syarat Bolehnya Berobat dengan Barang Haram   634
Andaikan Berobat dengan Najis Mempercepat Kesembuhan   634
Tinjauan Dalil   634
Keharaman Berobat dengan Zat yang Memabukkan   635
Menghilangkan Rasa Haus yang Mematikan dengan Arak   636
Mengobati Tersedak Makanan dengan Arak   637
Tinjauan Dalil   637
Penggunaan Obat Bius dalam Pengobatan   638

Referensi   639

***

Author: by Toko Buku Islam Online Terpercaya

Kunjungi channel kami di Wisata Buku Online

baca referensi lain di id.wikipedia

18 Total Views 3 Views Today
Print Friendly
About Wisata Buku

Wisatabuku.com adalah tempat Share daftar isi buku islam, resensi, sinopsis, review, dan tempat belanja buku online. Anda juga dapat mendownload majalah maupun buletin di blog ini. Pemesanan: 0857 2510 6570

Speak Your Mind

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.