Terjemahan Tafsir Fi Zilalil Quran Lengkap – Sayyid Qutb – Gema Insani Press

Terjemahan Tafsir Fi Zilalil Quran Lengkap Bahasa Indonesia - Di bawah Naungan Al QUran- Sayyid Qutb - Gema Insani PressNama Buku : Terjemahan Tafsir Fi Zilalil Quran – Di bawah Naungan Al Quran

Ukuran/Hal :   15 x24 cm / 12 Jilid

Berat:  1300 gram

Penulis: Sayyid Qutb

Penerbit: Gema Insani Press

Harga : Rp 1.420.000 ,- –> Rp 1.300.000 / 1 Set

Anda Hemat: Rp 120.000,-

Pemesanan: 0857 2510 6570 (SMS/Whatsapp/Line)
Pin BB: 5A12D221

Sinopsis Buku Terjemahan Tafsir Fi Zilalil Quran Lengkap – Sayyid Qutb – Gema Insani Press

Ada perasaan yang berbeda ketika saya membaca Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Kata-kata yang digunakan oleh al-Ustadz Sayyid Quthb begitu indah dan menyentuh hati sehingga menyemangati saya untuk berislam serta memperjuangkannya. Sungguh merupakan suatu buku tafsir yang wajib dibaca oleh setiap muslim agar hidupnya menemukan arah sebagaimana yang Allah tunjukkan. (Prof.K.H.Ali Yafie)

Tafsir Fi Zhilalil  Qur’an adalah tafsir yang menggerakkan. Pribadi Ustadz Sayyid Qurthb yang aktif berdakwah higga akhir hayatnya memberi nuansa haraki yang kuat pada tafsinya tersebut. Sementara itu, keindahan sastra pada Tafsir Fi Zhilal dihasilkan dari pendidikan beliau di bidang sastra dan aktivitas tulis-menulisnya yang panjang. Dengan begitu, membaca karya beliau ini akan meggerakkan umat Islam untuk mencapai cita-cita mulia Izzul Islam wal Muslimin, Menghadirkan Islam yang tidak menjadi beban melainkan rahmatan lil alamin.(Dr.Hidayat Nur Wahid,M.A)

Kelebihan buku tafsir ini adalah menggabungkan antara tafsir bir Ra’yi dan tafsir bil ma’tsur. kombinasi yang menjadikan buku tafsir ini memiliki hujjah yang kuat. Selain itu, bahasanya yang indah begitu menyentuh hati dan menggelorakan semangat jiwa untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam sekaligus memperjuangkannya.(Dr.K.H.Didin Hafidhuddin)

Sesuai dengan sosok pribadi dan kualitas penulisnya, tafsir ini kaya dengan ungkapan-ungkapan yang dapat menggelorakan semangat dan idealisme perjuangan menegakkan Al-Qur’an di bawah naungan Al-Qur’an. Para pembaca akan mendapatkan dua hal sekaligus, yaitu wawasan dan semangat perjuangan.(Dr.K.H.Miftah Faridl)

Sudah seharusnya setiap umat Islam membaca buku tafsir ini. Isinya yang mendalam dengan kandungan hujjah yang kuat, serta bahasa yang menyentuh hati, menjadikan buku ini layak untuk dijadikan referensi panduan hidup menuju arah yang diridhai Allah swt. (Prof.Dr.Din Syamsudin)
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an adalah kitab tafsir yang kental nuansa tarbawi dan haraki, penulisnya, asy-Syahid Sayyid Quthb, adalah tokoh besar dalam pemikiran Islam kontemporer yang paling menonjol sekaligus aktivis dakwah yang memperjuangkan Islam hingga akhir hayatnya. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an ditulis dengan gaya  bahasa yang indah, menyetuh, dan mampu meningkatkan semangat perjuangan. bagi para mujahid dakwah, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an in ilayaknya lentera yang selalu menerangi jalan dakwahnya. (Dr.Ahzami Sami’un Jazuli,M.A.)

Tafsir Fi zhilalil Qur’an adalah kitab tafsir yang istimewa. Pertama, ia ditulis pada masa kini bukan masa sekian abad yang lalu. Sehingga ia merepresentasikan pandangan seorang mukmin atas dunia kita yang berada dalam era Godless Civilization. Kedua, ia ditulis dari balik terali besi penjara oleh seorang ulama mujahid-dakwah yang istiqamah sepanjang hayatnya membela kalimat tauhid sampai syahid di tiang gantungan penguasa zalim. Dan Ketiga, kandungannya memadukan ketegaran akidah, fikrah, dan manhaj Islam dengan tampilan bahasa sastra yang indah dan menyentuh. Mahasuci Allah yang Mahatinggi. (Muhammad Ihsan Tanjung)

Terjemahan Tafsir Fi Zilalil Quran Lengkap - Sayyid Qutb - Gema Insani Press

Daftar Isi Buku Terjemahan Tafsir Fi Zilalil Quran Lengkap Bahasa Indonesia – Sayyid Qutb – Gema Insani Press

Jilid 1: Surah AL Faatihah – Al Baqarah

Jilid 2: Surah Ali Imran – An Nisaa’ 70

Jilid 3: Surah An Nisaa’ 71 – Pengantar Surah Al An’am

Jilid 4: Surah Al An’aam – Surah Al A’raaf 137

Jilid 5: Surah Al A’raaf 138 – At Taubah 92

Jilid 6: Surah At Taubah 93 – Yusuf 101

Jilid 7: Surah Yusuf 102 – Thaahaa 56

Jilid 8: Surah Thaahaa 57 – An Naml 81

Jilid 9: Surah An Naml 82 – Ash Shaafaat 101

Jilid 10:Surah Ash Shaaffaat 102 – Al Hujuraat

Jilid 11: Surah Qaaf – Al Haaqqah

Jilid 12: Surah Al Ma’aarij – An Naas

Pengantar Penerbit Tafsir Fi Zilalil Quran Lengkap Bahasa Indonesia – Sayyid Qutb – Gema Insani Press

Segala puja dan puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat, dan karuniaNya kepada kami sehingga dapat menghadirkan buku Tafsir Fi Zhilalil-Quran; Dibawah naungan Al Quran karya al Ustadz asy Syahid Sayyid Quthb rahimahullah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad saw. Besrta keluarga, sahabat dan orang orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.

Tiada kata yang dapat kami ucapkan dalam mengomentari karya al Ustadz asy Syahid Sayyid Quthb ini, selain subhanallah. Karena, buku ini di tulis dalam bahasa sastra yang sangat tinggi dengan kandungan hujjah yang kuat sehingga mampu menggugah hati nurani iman orang orang yang mlemebacanya. Buku ini merupakan hasil dari tarbiyah rabbani yang didapat oleh penulisnya dalam perjalanan dakwah yang ia geluti sepanjang hidupnya. Inilah karya besar dan monumental pada abad XX yang ditulis oleh tokoh abad itu, sekaligus seorang pemikir besar, konseptor pergerakan Islam yang ulung, mujahid di jalan dakwah, dan seorang syuhada. Kesemuanya itu ia dapati berkat interaksinya yang sangat mendalam terhadap al Quran hingga sampai akhir hayatnya pun ia rela mati diatas tiang gantungan demi membela kebenaran Ilahi yang diyakininya.

Mengingat tafsir Fi Zhilalil Quran; Di Bawah naungan Al Quran adalah buku tafsir yang disajika dengan gaya bahasa sastra yang tinggi, kami berusaha menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia dengan baik agar nuansa ruhani yang terdapat dalam buku  aslinya dapat tetap terjaga sehingga kita tetap mendapatkan nuansa itu dalam buku terjemahan ini. Kami berharap tafsir Fi Zhilalil Quran; Di Bawah naungan Al Quran yang akmi terjemahkan lengkap 30 juz yang anda pegang saat ini adalah jilid I(juz 1-3) dapat menjadi referensi dan siap Dirumah Anda untuk selalu menjadi teman hidup Anda dalam mengarungi samudra kehidupan.

Untaian untaian pembahasan di dalam tafsir Fi Zhilalil Quran; Di Bawah naungan Al Quran  adalah untaian untaian yang kental dengan nuansa Qurani sehingga ketika seseorang membacanya, seolah olah ia sedang berhadapan langsung dengan Allah SWT. Hsl inilsh ysng membuat InsyaAllah orang orang yang membaca merasa berada di bawah naungan al Quran, suatu perasaan yang telah dirasakan oleh al Ustadz asy Syahid Sayyid Quthb sehingga ia pun menamai buku tafsirnya dengan tafsir Fi Zhilalil Quran; Di Bawah naungan Al Quran.

Kami hadikan buku ini ke tengah tengah anda agar anda juga dapat merasakan nikmatnya hidup di bawah naungan al Quran. Karena, tiada yang lebih berharga dan berarti dalam hidup seorang hamba selain dapat nerinteraksi dengan yang Menciptakannya melaluai kalamNya yakni al Quran. Ia merupakan titik tolak dari semua kebaikan.

Wallahu a’lam bish shawab.
Billahit taufiq wal hidayah.

Pengantar Sayyid Qutb dalam Kitab Tafsir Fi Zilalil Quran Edisi Bahasa Indonesia – Gema Insani Press

Fi Zhilalil Quran
Di bawah naungan al quran
Sebuah kitab yang penulisnya hidup bersamanya, dengan ruhnya, pikirannya, perasaanya, dan seluruh eksistensinya.
Ia hidup bersamanya dari masa ke masa, gagasan demi gagasan, kata demi kata.
Ia tuangkan inti penglaman hidupnya dalam dunia iman.
Telah tiba waktunya bagi kitab ini utntuk di terbitkan oleh penerbit yang terpercaya, yang menyadari bahwa ia menerbitkan buah pikiran sebelum mencari uang.
Menyebarkan buah pikiran adalah tugas yang mulia, bukan menggapai kerakusan
Demikianlah hendaknya penerbitan resmi Darusy Syuruq ini, setelah berkeliling keliling dalam penerbitan lpenerbitan yang tiding resmi.
Hendaklah ia ditertibkan dalam kemasan yang baru ini.
Salam hormat kami dalam pengembaran kami di muka bumi kepada penyusun yang telah syahid (menghadap ilahi)

Pengantar Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran Edisi Bahasa Indonesia – Gema Insani Press

Dengan menyebut Nama Allah yang Maha pengasih lagi maha penyayang
Fi Zhilalil Quran’ Dibawah Naungan Al Quran.

Hidup di bawah naungan Al Quran adalah suatu nikmat. Nikmat yang tidak di mengerti keciali oleh yang merasakannya. Nikmat yang engangkat harkat usia manusia,m menjadikannya diberkahi, dan menyucikannya.
Segala puji milik Allah yang telah memberiku karunia dengan hidup di bawah naungan al Quran dalam suatu rentang waktu, yang kurasakan nikmatnya yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam hidupku. Kurasakan nikmat ini dalam hidupku, yang menjadikan usiaku bermakna, di berkahi, dan suci bersih.

Kutempuh hidup dengan kudengar Allah Yang Maha Suci brbicara kepadaku dengan al Quran ini, padahal aku sejumput hamba yang kecil. Adakah penghormatan bgi manusia seperti penghormatan yang tinggi dan mulia seperti ini ? adakah pemaknaan dan peningkatan harkat usia seperti yang diberikan oleh al Quran ini? Kedudukan manakah yang lebih mulia yang di berikan oleh pencipta yang Mahamulia kepada manusia?
Aku hidup di bawah naungan al Quran. Dari tempat yang tinggi, kulihat kejahiliahan yang bergelombang di muka bumi. Kulihat pula kepentingan kepentingan penghuninya yang kecil tak berarti. Kulihat kekaguman orang orang jahiliah terhadap apa yang mereka miliki bagaikan kanak kanak; pikiran pikiran kepentingan dan perhatianya bagaikan anak anak kecil. Ketika kulihat mereka, aku bagaikan seorang dewasa yang melihat permainan anak anak kecil, pekerjaan anak anak kecil, dan tutur katanya yang pelat seperti anak kecil.

Mengapakah manusia manusia ini? Mengapa mereka terbenam di dalam lumpur lingkungan, tanpa bias dan mau mendengar seruan yang luhur dan mulia, seruan yang mengangkat harkat kehidupan, menjadikannya di berkahi dan menyucikanya?

Aku hidup di bawah naungan al Quran sambil bersenang senang dengan menikmati gambaran yang sempurna, lengkap, tinggi, dan bersih bagi alam wujud ini, tentang tujuan alam wujud ini seluruhnya dan tujuan wujud manusia. Kubandingkan dengan konsepsi jahiliah tempat manusia hidup, di timur dan barat, diselatan dan utara, dan aku bertanya, “bagaimanakah manusia hidup di dalam kubangan yang busuk di dataran paling rendah dan didalam kegelapan yang hitam pekat, sementara disisinya ada tempat penggembalaan yang subur, tempat pendakian yang tinggi, dan cahaya yang cemerlang?”

Aku hidup di bawah naungan al quran; kurasakan simponi yang indah antara gerak alam semesta yang diciptakannya. Kemudian, kuperhatikan lagi kehidupan jahiliah maka terlihat olehku kejatuhan yang dialami manusia karena menyimpang dar sunnah kauniyah dan benturan antara ajaran ajaran yang rusak serta jahat yang telah lama kemanusiaan bercokol di atasnya dan fitrah yang diciptakan Allah untuknya. Aku berkata dalam hati, “setan keparat manakah gerangan yang telah membimbing langkah mereka ke neraka jahim ini?”
Wahai betapa ruginya manusia ini !!!

Aku hidup di bawah naungan al Quran; kulihat alam wujud ini jauh lebih besar hakikatnya, lebih banyak sisinya. Ia adalah alam ghaib dan alam nyata, bukan Cuma alam nyata saja. Ia adalah dunia dan akhirat, bukan Cuma dunia inii saja. Pertumbuhan manusia dan kemanusiaan terus berkembang di cabang cabang dari ruang linkup yang amat panjang ini,. Sedangkan, kematian bukanlah akhir perjalanan, tetapi sebuah tahapan perjalanan itu sendiri. Padahal apa yang di dapat manusia di muka bumi ini bukanla bagiannya secara keseluruhan, melainkan hanya sejumput kecil saja dari bagiannya itu. Balasan yang terluput darinya di sini, tidak akan terluput disana. Maka, tidak ada penganiayaan, tidak ada pengurangan dan tidak ada penyia nyiaan. Perjalanan yang ditempuhnya di atas planet bumi ini hanya sebuah perjalanan di alam kehidupan yang biasa berlaku; sedang dunia yang jujur dan penyayang adalah yang punya ruh yang saling bertemu dan bertegur sapa, dan menuju kepada pencipta yang maha esa, yang kepada Nya ruh orang mukmin dalam kekhusyukan,

“Hanya kepada Allah lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, dan (dujud pula) baying baying mereka pada waktu pagi dan petang hari” (ar Ra’d: 15)
“langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan, tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya” (al Israa’: 44)

Manakah gerangan kesenangan, kelapangan, dan ketenangan yang datang kedalam hati seperti gambaran yang komplet, sempurna, lapang, dan benar ini?

Dibawah baying bayabg al Quran, aku hidup dengan melihat manusia sebagai makhluk yang lebih banyak mendapatkan penghormatan disbandingkan yang diberikan oleh manusia itu sendiri. ia adalah makhluk yang di tiupkan padanya ruh ciptaan Allah, “maka, apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu (wahai malaikat) kepadanya dengan bersujud” (al Hijr: 29)
Dengan ditiupkannya ruh ini, manusia menjadi khalifah di muka bumi ini, “ingatlah kepada Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah dilmuka bumi,” (al Baqarah: 30)

Dan segala sesuatu ditundukkan untuknya, “dan dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripadaNya…” (al Jaatsiyah: 13)

Karena, dengan kemuliaan dan ketinggian kedudukan yang diberikan Allah kepada manusia dan di jadikanNya unsur kesamaan antar manusia ini, unsur tiupan ilahi yang mulia ini, Allah menjadikan unsur kesamaan itu adalah unsur akidah terhadap Allah. Maka, akidah seorang mukmin adalah tanah airnya, bangsanya, dan keluarganya. Oleh karena itu, semua manusia berhimpun padanya dan bertumpu atasnya, bukan seperti binatang yang berhimpun pada rumput, tempat penggembalaan, pepohonan, dan padang yang membentang.

Orang mukmin tidak bernasab kepada keturunan, yang berspekulasi dalam pengembangan zaman. Sesungguhnya, dia adalah salah seorang dari satu rombongan yang mulia, yang dibimbing langkahnya oleh rombongan terhormat itu: Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Musa, Isa dan Muhammad alaihimushshalaatu wassalam,

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini , adalah agama kamu semua, agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepadaKu” (al Mu’minuun: 52)

Rombongan yang mulia ini, yang terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman esjak dahulu, terus menghadapi sebagaimana tampak di dalam bayang bayang al Quran berbagai macam sikap manusia yang mirip mirip, bahaya yang mirip mirip dan pengalaman pengaalaman yang mirip mirip sepanjang perjalanan zaman dan masa, perubahan tempat, dan berbilangnya golongan manusia. Mereka menghadapi kesesatan, kebutaan, penyimpangan, hawa nafsu, kesewenang wenangan, kezaliman, terror, dan ancaman. Akan tetapi, mereka terus berjalan di jalannya dengan langkah yang mantap, hati yang tenang, percaya kepada pertolongan Allah, menggantungkan harapan kepadaNya, dan selalu menantikan realisasi janji Allah yang maha benar dan pasti pada setiap langkahnya,

“orang orang kafir berkata kepada rasul rasul mereka, “kami sungguh sungguh akan mengusir kamu dari negri kami atau kamu kembali kepada agama kami.’ Maka tuhan mewahyukan kepada mereka, ‘kami pasti akan membnasakan orang orang yang zalim itu. Dan, kami pasti akan menempatkan kamu dii negeri negeri itu sesudah mereka. Yang demikianitu (adalah untuk) orang orang yang takut (akan menghadap) ke hadiratKu dan yang takut krpada ancaman Ku (Ibrahim: 13-14)

Sikap manusia yang mereka hadapi adalah sama, pengalamanya sama, ancamannya sama, keyakinanya sama dan yang dijanjikan untuk mereka pun juga sama, yaitu yang di janjikan kepada rombongan yang terhormat itu. Dan, akibat yang mereka nantikan juga sama yaitu akibat yang di nanti nanti kan oleh seorang mukmin  di ujung oerjalanan mereka, sedangkan mereka menghadapi kesewenang wenangan, terror, dan ancaman.

Keteraturan, keserasian, dan keharmonisan

Dibawah baying baying al Quran, aku mendapatkan pelajaran bahwa di alam semesta ini tidak ada tempat lagi sesuatu untuk terjadi secara kebetulan dan ketidaktahuan, tidak ada tempat pula bagi sesuatu yang datang dengan tiba tiba, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan kadar (ukuran),” (al Qamar: 49) “…dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menakdirkan (menetapkan ukuran ukurannya) dengan serapi rapinya.” (al Furqan: 2)

Segala sesuatu terjadi karena ada hikmahnya. Akan tetapi, hikmah perkara ghaib kadang kadang tidak terungkap oleh pandangan manusia yang terbatas ini, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al Baqarah: 216)

Sebab sebab yang di kenal manusia kadang kadang di iringi  oleh bekas bekasnya dan kadang kadang tidak di inginakannya. Dan, pendahuluan pendahuluan yang di anggap pasti oleh manusia kadang kadang menampakkan hasilnya dan kadang kadang tidak. Hal itu di sebabkan bukan sebab sebab dan pendahuluan pendahuluan itu yang menimbulkan bekas dan hasil,  melainkan adanya kesamaan dan kesesuaian antara kehendak mutlak yang menimbulkan bekas bekas dan hasil itu dengan sebab sebab pendahuluan itu, “…Kamu tidak akan mengetahui, barangkali Allah yang mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.” Ath Thalaaq: 1)

“Dan, kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah…”(at Takwiir: 29)

Orang mukmin mengusahakan sebab sebab ini karena mereka diperintahkan untuk melakukanya, sedangkan Allah yang menentukan akibat dan hasilnya. Merasa tenteram terhadap rahmat Allah, keadilaNya, kebijaksanaanNya, dan ilmuNya saja sudah merupakan kenikmatan yang terpercaya dan dapat menyelamatkan yang bersangkutan dari gejolak dan bisikan yang bukan bukan, “Setan menjanjikan (menakut nakuti) kamu dengan kemiskina dan menyuruh kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dariNya dan karunia. Dan, Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (al Baqarah: 268)

Oleh karena itu, aku hidup di bawah baying baying al Quran, dengan jiwa yang tena, hati yang tenteram, dan nurani yang mantap. Aku hidup dengan melihat tangan Allah dalam setiap urusan. Aku hidup dalam lindungan dan pemeliharaan Alah. Aku hidup dengan merasakan kepsitifan dan keaktifan sifat sifat Allah ta’ala, “Atau apakah yang memperkenalkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabiloa dia berdoa kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan…?”(an Naml: 62)

“…Dan, Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba hamba Nya. Dan, Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (al An’aam: 18)

“…Dan, Allah berkuasa terhadap urusan Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetauinya.” (Yusuf: 21)

“…ketahuilah bahwasannya Allah membatasi antara manusia dan hatinya…”(al Anfaal: 24)

“(Allah) Mahakuasa berbuat apa yang di kehendakiNya.” (al Buruj: 16)

“…Barangsiapa yang bertakwa kepada allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak di sangka sangkanya. Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan melaksanakan urusan ( yang di kehendakiNya )…” (ath Thalaaq: 2-3)

“…Tidak ada makhluk melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun ubunnya…”(Huud: 56)

“Bukanlah Allah cukup untuk melindungi hamba hambaNya? Dan, mereka menakut nakuti kamu dengan (sembahan sembahan) yang selain Allah…”(Az Zumar: 36)

“…Barang siapa dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya…”(Al Hajj: 18)

“…dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk.”(al Mu’min: 33)

Alam semesta ini tidaklah dibiarkan menurut system dan mekanisme yang tuli dan buta. Karena itu, di belakang undang undang alam ini pasti terdapat kehendak yangmengatur dan kehendak yang mutlak. Allahlah yang menciptakan apa yang di kehendaki Nya dan memeliharanya.
Dan aku mendapat pelajaran pula bahwa tangan Allah selalu bekerja, tetapi ia bekerja dengan jalannya sendiri. dan, kita tidak boleh meminta di segerakan kerjanya tangan Allah itu, dan kita juga tidak boleh menyuruhNya melakukan sesuatu.

Manhaj system Ilahi sebagaimana yang tampak di bawah baying baying al Quran dibuat untuk bekerja pada setiap lingkungan, pada setiap perkembangan manusia, dan pada setiap keadaan dari berbagai keadaan jiwa manusia. Ia dibuat untuk manusia yang hidup di muka bumi ini, yang memegang fitrah manusia, kemampuan dan persiapannya, kekuatan dan kelemahanya, dan keadaan keadaanya dengan segala perubahan yang senantiasa menimpanya.

Prasangkanya yang buruk terhadap keberadaannya tidak menjadikan peranya hina di muka bumi atau menjadikan tersia sianya niolainya dalam lukisan hidupnya, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakatnya. Demikian pula, dia tidak bingung bersama khayalanya, lantas mengangkat keberadaanya melampaui ukuran dan kekuatannya, dan melampaui kepentingan yang untuknyalah ia diciptakan oleh Allah. Dan, tidaklah dapat di pastikan dalam kedua kondisi itu bahwa unsur unsur fitrahnya merupakan bekal yang berkembang dengan undang undang atau terbuka tutupnya dengan goresan pena.

Manusia adalah suatu makhluk dengan eksistensinya, fitrahnya, dan kecenderungan kecenderungannya serta persiapan persiapannya. Ia mengambil dan menggunakan manhaj Ilahi dengan tangannya untuk meningkatkan martabatnya ke puncak tingkat kesempurnaany yang di takdirkan untuknya sesuai dengan aktivitas dan kegiatannya, dan memulaikan dirinya dan fitrahnya serta unsur unsurnya. Dan, dialah yang menuntunnya di jalan kesempurnaan untulk naik menuju Allah. Oleh karena itu, manhaj Ilahi dibuat untuk masa yang panjang yang hanya diketahui oleh Pencipta manusia dan Yang menurunkan al Quran ini. Karena itu, tidaklah dia serampangan dan tidak tergesa gesa untuk mewujudkan tujuan tujuannya yang luhur di dalam manhaj ini.

Waktu di depannya terbentang luas, tidak di batasi oleh usia seseorang, dan tidak dapat di dorong oleh keinginan seseorang yang fana ini, karena khawatir kedahuluan meninggal dunia sebelum terwujudnya tujuannya yang jauh, sebagaimana yang terjadi pada para pengikut isme isme di muka bumi yang melakukan segala urusan dengan serampangan dalam satu generasi, dan melangkahi fitrah yang seimbang karena mereka tidak sabar terhadap langkah perjalanan yang seimbang ini.

Ditengah perjalanan yang serampangan yang mereka tempuh itu terjadilah pembantaian pembantaian, darah mengalir deras, tata nilai menjadi hancur, dan segala urusan menjadi goncang dan labil. Kemudian pada akhirnya mereka sendirilah yang hancur, dank arena mazhab mazhab (isme isme) buatan itu pun hancur di bawh pukulan fitrah yang tak dapat di bending oleh isme sidme yang amburadul.

Islam berjalan dengan lemah lembut bersama dengan fitrah. Islam mendorong fitrah dari sini dan menghalanginya dari sana; ia menegakkannya kalau miring, tetapi tidak memecahkan dan menghancurkannya. Ia bersabar terhadapnya seperti sabarnya orang yang arif, yang tajam pandangan batinya, yang percaya akan tujuan yang telah di rumuskan. Dan, orang yang tidak dapat menggapai kesempurnaan pada babak ini, dia akan dapaat menyempurnakanya pada babak kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus, atau keseribu. Karena, masa terus berkembang, tujuannya jelas, dan jalan untuk mencapai tujuan yang besar itu sangat panjang.

Sebagaimana pohon yang tinggi itu tumbuh dan akarnya menghujam ke dalam tanah, serta ranting dan dahanya menjulang membentuk jaringnb, Islam pun tumbuhperlahan lahan, lembut, dan tenang, kemudian jadilah ia sebagaimana yang di kehendaki oleh Allah.
Tanaman itu kadang tertaburi debu di atasnya, kadang kadang sebagiannya dimakan ulat, kadang terendam banjir. Akan tetapi, sang penanam yang piawai tahu bahwa tanaman itu akan kekal dan berkembang, dan ia akan mengalahkan semua hama dalam waktu yang panjang. Karena itu, ia tidak pernah menindas keadilan dan tidak pernah gelisah. Dia tidak akan berusaha mematangkanya tanpa menggunakan sarana sarana fitrah (keaslian) yang tenang dan stabil, yang toleran dan penyayang. Itulah manhaj Ilahi di seluruh alam ini, “.,..dan kamu sekali kali tidak akan mendapati perubahan bahan pada sunnah Allah.” (al Ahzab: 62; Fathir: 43)

Al haq (kebenaran) didalalm manhaj Allah merupakan dasar bangunan alam wuju ini, bukan sesuatu yang datang sekonyong konyong dan tiba tiba tanpa tujuan. Sesungguhnya, Allah adalah maha benar dan dari keberadaanNya berkembanglah wujud  segala yang maujud, “(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) Yang Hak, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang mahatinggi lagi Mahabesar.”(al Hajj: 62)

Dan Allah menciptakan alam ini dengan benar, tidak di campouri dengan kebatilan, “Allah tidaj menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak.” (Yunus: 5)

“Ya tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia sia. Mahasuci Engkau.” (Ali Imran: 191)

Kebenaran adalah pilar utama alam wujud ini, apabila ia menyimpang dari kebenaran maka rusaklah ia dan akan binasa, “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi.” (al Mu’minuun: 71)

Oleh karena itu, kebenaran harus eksis dan kebatilan harus sirna. Kalau tidak demikian fenomenanya, jelaslah akibatnya, “Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.”(al Anbiyaa’: 18)

Kebaikan, kesalehan, dan kebajikan merupakan asal segala sesuatu sebagaimana kebenaran, dan akan terus kekal bersama kebenaran di muka bumi,
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah lembah menurut ukurunnya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan, dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikian Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang taka da harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan perumpamaan.”(ar Ra’d: 17) “tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat uang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) langit. Pohon itu memebrikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan, perumpamaan kalimat yang buruk, setiap pohon yang buruk yang telah di ambil dengan akar akarnya dari muka bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (imsn) orsng orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehiduoan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”(Ibrahim: 24-27)
Manaklah ketentraman yang ditimbulkan oleh gambaran ini? Macam apakan ketenangan yang dimasukan ke dalam hati? Kepercayaan macam apakah pada kebenaran, kebaikan, dan kesalehan itu? Dan, kekuatan dan ketinggian seperti apakah yang di alirkan di dalam hati sehingga menganggap kenyataan yang ada ini keci?

Kembali kepada Allah, Makna dan Aplikasinya

Akhirnya, sampailah aku dalam masa hidupku di bawah naungan al Quran kepada keyakinan yang pasti bahwa tidak ada kebakan dan kedamaian bagi bumi ini, tidak ada kesenangan bagi kemanusiaan, tidak ada ketenangan bagi manusia, tidak ada ketinggian, kenberkatan, dan kesucian, dan tidak ada keharmonisan antara undang undang alam dengan fitrah kehidupan melainkan dngan kembali kepada Allah.

Kembali kepada Allah sebagaimana yang tampak di dalam bayang bayang al Quran memiliki satu bentuk dan satu jalan. Hanya satu, tidak ada yang lain. Yaitu, mengembalikan semua kehidupan kepada manhaj Allah yang telah di tulisny a di dalam kitab Nya yang mulia bagi kemanusiaan. Yaitu, dengan menjadikan kitab ini sebagai pengatur dalam kehidupannya dan berhukum kepdanya di dalam semua urusannya. Kalau tidak begitu, kerusakanlah yang akan terjadi di muka bumi, kesengsaraan bagi manusia , terbena ke dalam lumpur dan kejahilan yang menyembah hawa nafsu selain Allah,

“maka jika mereka tidak memenuhi permintaanmu ketahuilah bahwa sesungguhnya hanya mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan, siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti petunjuk dari Allah sedikitpun? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang Zhalim.” (al Qashash: 50)

Sesungguhnya Allah berpedoman kepada manhaj Allah di dalam kitabNya itu bu8kanlah perkara sunnah, thathawu’ atau boleh memilih, tetapi ia adalh iman. Kalau tidak mau, tidak ada iman bagi yang bersangkutan, “Dan tidaklah patut bagi laki laki yan mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasulnya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akaan ada bagi mereka  pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.”(al Ahzab: 36)

“kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutlah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang orang yang tidaj mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali sekali tidak akan dapat menolak dari kamu sidikit pun dari (siksaan) Allah. Dan, sesungguhnya orang orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung bagi orang orang yang bertakwa.”al Jaatsiyah: 18-19)

Kalau begitu, urusan ini sangat serius. Itu adalah urusan aqidah sejak dari dasarnya. Kemudian, urusan kabahagiaan atau kesengsaraan manusia.
Sesungguhnya, manusia yang diciptakan Allah ini tidak dapat membuka gembok gembok fitrahnya kecuali dengan menggunakan kunci ciptaan Allah, dan tidak akan dapat mengobati penyakit penyakit fitrah itu kecuali dengan obat yang dibikin dengan tangan Allah. Dan, Allah telah menjadikan manhaj Nya sebagai kunci gembok dan obat bagi semua penyakitnya, “Dan kami turunkan dari al Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang orang yang beriman.” (al Isra’: 82)

“sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.”(al Isra’: 9)

Akan tetapi, manusia tidak ingin mengembalikan gembok ini kepada penciptanya, tidak ingin membawa si sakit kepada penciptanya, tidak mau menempuh jalan sesuai dengan urusan dirinya, urusan kemausiaanya, dan mana urusan yang sekiranya membawanya bahagia atau sengsara. Ia tidakterbiasa menempuhnya dengan mempergunakan segenap sarana dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya yang kecil kecil. Padahal, ia tahu bahwa untuk memperbaiki alat alat itu memerlukan insinyur yang membuatnya. Tetapi, kaidah ini tidak di terapkan bagi kehidupan manusia sendiri, yaitu dikembalikanke pabrik yang memproduksinya, dan tidak mau bertanya kepada orang yang membuat alat alat yang mengagumkan itu, yaitu oragan organ manusia yang agung dan mulia, yang halus dan yang lembut, yang tidak ada yang mengetahui saluran salurannya dan jalan jalan masuknya kecuali yang membuat dan menciptakan, “Sesungguhnya DIa Maha Mengetahui segala isi hati, apakah Allah yang mencipttakan itu tidak mengetahui, padahal Dia Mahahalus lagi Mahamengetahui?” (Al Mulk: 13-14)

Dari sini lantas menimpalah kesengsaraan kepada manusia yang tersesat, manusia yang miskin dan bingung, manusia yang tidak akan mendapatkan jalan yang benar, tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan menemukan ketenangan, tidak akan mendapatkan jalan yang benar, tidak akan mendapatkan kebahagiaan, kecuali denganmengembalikan fitrah kemanusisaan ini kepada Penciptanya Yang Maha Agung, sebagaimana dikembalikan peralatan peralatan kepada penciptanya yang kecil itu.

Sesungguhnya, dijauhkannya islam dari pembimbingnya terhadap manusia yang besar dala sejarahnya,, bencana yang manusia tisdak pernah melihat bandingannya dalam semua bencana yang dialaminya.

Islam telah memegang kepemimpinan setelah bumi rusak, lehidupan menjadi kacau balau, kepemimpinan berjalan dengan kejam dan sewenang wenang, dan manusia merasakan bencana dan kesengsaraan karena model kepemimpina yang sewenang wenang itu,
“telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (ar Ruum: 41)

Islam mengendalikan dengan al Quran ini, dengan konsep konsep baru yang di bawa oleh al Quran, dan dengan syariat yang di kembangkan dari konsep ini. Bmaka, yang  demikian itu melahirkan manusia manusia yang lebih agung daripada kelahirannya secara fisik. Al Quran telah melahirkan bagi manusia pandangan yang baru tentang alam dan kehidupan, tentang nilai tatanan, sebagaimana ia telah melahirkan bagi kemanusiaan sebuah realitas social yang unik, yang menjadi mulia hanya semata mata konsepsinya sebelum ditumbuhkan sebagai manusia baru oleh al Quran.

Ya, sebuah realitas social yang bersih dan indah, yang agung dan luhur, yang lapang dan toleran, yang realistis dan positif, yang seimbang dan harminis yang sama sekali tidak terbayang dalam hati seandainya Allah tidak menghendakinya dan merealisasikan dalam kehidupan mereka, di bawah naungan al Quran, di bawah bayang bayang al Quran, manhaaj al Quran dan syarian al Quran.

Setelah itu, terjadilah bencana yang membinasakan, islam terjauh dari kepemimpinan, terjauh darinya dan di gantikan oleh kejahiliahan pada kali lain, dalam berbagai bentuk dan wujudnya, dalam bentuk materialism yang dikaagumi manusia sekarang, sebagaimana kagumnya anak anak kecil terhadap pakaian berlukisan dan mainan yang warna warni.

Disana ada kelompok orang yang menyesatkan, yang menipu, dan menjadi musuh kemanusiaan. Mereka menaruh manhaj ilahi dalam satu piringan timbangan dan teori teori buatan manusia dalam dunia materi pada piringan timbangan yang lain, kemudian mereka berkata “inilah pilihanku!! Pilihanku adalah manhaj Ilahi bagi kehidupan manusia dalam dunia materi. Atau, mempergunakan hasil pengetahuan manusia dengan menjauhi manhaj Ilahi!!”

Ini daya yang tercela dan busuk ! masalahnya tidak demikian. Manhaj Ilahi tidak memusuhi kretifitas manusia, tetapi justru ia memberi inspirasi terhadap kreasi ini dan menfarahkannya kearah yang benar dan mendorongnya untuk menempati posisinya sebagai khalifah di muka bumi, suatu posisi yang Allah berikan kepadanya, dan di beriNya kamampuan dan piootensi untuk menunaikan tugas tugasnya, dan diaturNya penciptaan manusia dengan penciptaan alam sehingga meraka dapat menguasai kehidupan, kerja dan kreasi. Sementara, berkreasi itu sendiri merupakan ibadah kepada allah, sebagai salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Nya yang amat besar, dan sebagai syarat pelaksanaan janji kekhalifahan itu sendiri, yaitu hendaklah mereka beramal dan bergerak serta berdaya upaya dalam bingkai keridhaan Allah. Adapun orang orang yang meletakkan manhaj ‘Pengaturan’ Allah di dalam satu piringan timbangan dan meletakkan kreasi manusia dalam dunia materi pada piringan timbangan dan meletakkan kreasi manusia dalam dunia materi pada pad piringan timbangan yang lain (lantas memilih salah satunya), jelaas menunjukan niat mereka yang amat jelek, sangat buruk, yang hendak menambah keletihan dan kebingungan manusia yang sudah letih, bingung dan sesat, yang mendengarkan suara juru nasihat yang tulus, ingin kembali dari kebingungan yang membinasakan, dan ingin hidup tenang di bawah naungan Allah.

Ada pula golongan lain, yang tidak berkurang niat baiknya, tetapi pengetahuannya tidak memadai dan tidak mendalam. Mereka terkagum kagum oleh pengungkapan manusia terhadap kekuatan dan undang undang alam, mereka terpengaruh dan tergiur oleh kemampuan manusia dalam dunia materi. Lantas kekaguman dan keheranan mereka menjadikan mereka memisahkan antara potensi alam dan nilai iman, memisahkan kerjanya dan dampak nyatanya dalam alam dan realitas kehidupan. Mereka menjadikan suatu lapangan bagi hokum alam dan suaaaaatu lapangan lain bagi hokum alamdan suatu lapangan lain bagi nilai nilai iman; dan mereka mengira bahwa undang undang alam itu berjalan pada jalannya sendiri tanpa ada pengaruhnya terhadap nilai nilai iman dan hasilnya adalah sama saja, apakah manusianya beriiman atau kafir, mengikuti manhaj Allah atau menentangnya. Mengikti syariat Allah atau mngikuti hawa nafsu manusia.

Ini adalah suatu kesalahan. Ini adalah pemisahan antara dua macam sunnah Allah yang pada hakekatnya tidak terpisah. Nilai nilai iman adalah sebagian dari sunnah Allah di alam semestn sama dengan hokum islam. Dan hasil hasilnya saling berhubungan dan berkaitan. Tidak ada alas an untuk memisahkannya (sekularisasi) dalam hati dan pikiran seorang mukminin.

Inilah gambaran yang benar yang di timbulkan oleh al Quran di dalam jiwa ketika jiwa itu hidup di bawah naungan al Quran, Fi Zilaalil Quran. Hal ini ditimbulkan oleh al Quran sebagaimana yang di ceritakannya tentang ahli kitab terdahulu dan penyimpangannya itu pada akibatnya, “Dan, sekiranya Ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surge surga yang penuh dengan kenikmatan. Dan, sekiranya mereka sungguh sungguh menjalankan (hokum) taurat, Injil dan (al Quran) yang di turunkan kepada mereka dari tuhannya, niscaya meereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah mereka..”(al Maa’idah: 65-66)

Hal itu ditimbulkan oleh al Quran sebagaimana yang ia ceriatakan tentang janji Nabi Nuh kepada kaumnya, “Maka, aku katakana kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tujanmu sesungguhnya Dia adalan Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak anakmu, dan mengadakan untukmu kebun kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai sungai.” (Nuh: 10-12)

Al Quran menimbulkan yang demikaian itu ketika ia mengaitkan antara realitas yang ada di dalam jiwa manusia dan kondisi luaran yang diperbuat Allah terhadap mereka, “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah pada mereka sendiri…”(ar Ra’d: 11)

Iman kepada Allah, beribadahh kepadaNya secara istiqamah, dan memberlakukan syariat Nya di muka bumi, semuanya adalah melaksanakan sunnah sunnah Allah. Yaitu, sunnah sunnah yang aktif dan positif, yang bersumber dari semua sunnah kauniyah ‘hukum alam’ ya=ng kita lihat nekasnya yang nyata dengan indra dan pengalamankita.

Akan tetapi, adakalanya kita melihat lambing lambing lahiriah yang menipu untuk memisahkan sunnah kauniyah, ketika kita melihat orang orang yang Cuma mengikuti huku alam saja mendapatkkan keberhasilan dengan meninggalkan nilai nilai iman. Pemisahan ini kadang kadang tidak tampal hasilnya pada awal mul;anya, tetapi secara pasti pada akhirnya menampakkan hasilnya. Dan, demikian pulalah yang terjadi pada masyarakat Islam sendiri. langkah naiknya di mulai dari titik pertemuan hokum alam dengan nilai nilai iman di dalam hidup nya, dan langkah kejatuhannya dimulai dari titik pemisahan antara keduanya. Jadinya, mereka jatuh dan jatuh ketika sudah terbuka lubang pemisahan (sekularisme) hingga mereka sampai ke titik terendah pada waktu mereka telah mengabaikan hokum alam dan nilai iman sekaligus.

Dan, pada bagian lain sekarang sedang bercokol peradaban materiil, bagaikan burung yang terbang dengann sebelah sayap, sementara sayap yang satu nya lumpuh. Karena itu, mereka meningkat dalam kemajuan materiil dengan meninggalkan sisi sisi kemanusiaan dan mereka menderita kegoncangan batin, kebingungan, dan penyakit penyakit jiwa dan saraf sebagaimana orang orang berakalnya yang berteriak meminta tolong untuk menanggulanginya.

Kalau bukan karena orang orang yang berpikiran sehat ini niscaya mereka tidak akan terbimbing kepada manhaj Allah, satu satunya obat dan penawar .

Syariat Allah bagi manusia merupakan salah satu bagian dari undang undang Nya yang menyyeluruh di alam semesta. Maka, palaksanaan syariat ini pastimemiliki dampakpositif dalam menyerasikan perjalanan hidup manusia dengan perjalanan alam semesta.
Syariat ini tidak lain adalah buah uman, ia tidak mungkin dapat berjalan sendiri tanpa fondasinya yang besar. Syariat dibuaat untuk memberi saham di dalam membangun masyarakat muslim.

Syariat saling melengkapi dengan konsep Islam yang menyeluruh terhadap wujud yang besar dan eksistensi manusia, serta apa yang sitimbulkan olah konsepsi ini, yaitu ketakwaan hati, kesucian perasaan, besarnya kemauan, akhlak yang luhur, dan perilaku yang lurus. Dan tampak pulalah keharmonisan dan keserasian di antara sunnah sunnsh Allah, baik yang kuta sebut sebagai hokum alam maupun nilai nilai iman. Masing masing adalah bagia dari sunnah Allah yang komplet terhadap alam wujud ini.

Manusia juga termasuk salah satu kekuatan alam dengan kerjanya dan iradahnya, iman dan kesalehannya, ibadah dan aktifitasnya. Dan mereka juga merupakan kekuatan uang memiliki dampak yang positif dalam alam wujud ini, yang berkaitan dengan sunnah Allah yang komprehensif bagi alam ini. Semuanya bekerja secara teratur dan harmonis, serta menghasilkan buah yang sempurna ketika bertemu dan berpadu. Akan tetapi, ia akan menimbulkan dampak yang merusak dan menggoncangkan, merusak kehidupan, menyebarkan kesengsaraan dan nestapa di antara manusia apabila berpisah dan berbenturan, “yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali sekali tidak akan mengubah suatu nikamat yang tekah di anugerahkan Nya kepada suatu kaum, , hingga kaum itu mnengubah apa yang ada pada diri  mereka sendiri…”(al Anfaal: 55)

Karena itu, terjadilah hubungan yang erat antara amalan manusia dan perasaannya dengan terjadinya peristiwa peristiwa alam dalam bingkai sunnah Ilahiyah yang meliputo seluruhnya. Dan, tidak ada yang menghabiskan itu untuk merobek rbek hubungan ini dan untuk merusak keharmonisannya, serta tidak ada yang menghalangi antara manusia dan sunnah Allah yang berlaku ini kecuali musuh kemanusiaan yang hendak menjauhkannya dari petunjuk. Dan, sudah seharusnya manusia menyingkirkannya dan menjauhkannya dari jalannya, untukl menuju kepada Tuhannya Yang Mahamulia.
Dimikianlah sebagian dari curahan perasaan saya dalam kehidupan di bawah naungan al Quran. Mudah mudahan Allah menjadikannya bermanfaat dan membri petunjuk. Dan, apa yang kamu kehendaki tidak dapat terwujud kecuali jika Allah menghendakinya.

Sayyid Quthb

Author: by Toko Buku Islam Online Terpercaya

Kunjungi channel kami di Wisata Buku Online

baca referensi lain di id.wikipedia dan en.wikipedia

1987 Total Views 3 Views Today
Print Friendly

Incoming search terms:

  • tafsir fi zilalil quran
  • Tafsir fi jilalil quran
  • harga tafsir fi zhilalil quran
  • daftar ini tafsir fi zhilalil quran
  • jilalil quran
  • harga tafsir fi zhilalil qur\an
  • zilalil 1
  • download ebook fi zhilalil
  • buku dalam bayang-bayang alquran sayyid quthb
  • harga 1 set 13 pcs Tafsir Fi Zhilalil Quran Sayid Qutub
About Wisata Buku

Wisatabuku.com adalah tempat Share daftar isi buku islam, resensi, sinopsis, review, dan tempat belanja buku online. Anda juga dapat mendownload majalah maupun buletin di blog ini. Pemesanan: 0857 2510 6570

Speak Your Mind

*